bintang alzeyra's Site blog-indonesia.com'/

bintang's posts with tag: cerpen ku

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag cerpen ku
Blog EntryHomesickFeb 11, '08 4:02 PM
for everyone

Aku hanya tertegun menatap celengan babi mungil yang dijual di depan kampusku. Imut banget. Cuman sayang, nanti kalo aku harus memecahkan celengan itu, hanya karena aku mau melihat jumlah isinya di saat celengan itu sudah kupenuhi dengan uang recehku. Ah, tak masalah bagiku, bukankah aku sendiri yang mendisiplinkan diri untuk menyisihkan uang recehku di saat rasa marahku mulai timbul. 3 minggu ini aku sempet ingin marah, yah..cuman sedikit kesal, tapi itu juga termasuk rasa yang harus kutahan.

Aku letakkan celengan babi kecil itu di meja belajarku. Betapa senangnya memasukkan 3 recehan akibat 3 kali rasa marahku kepada temanku saat itu. Ah..aku hanya mau menyisihkan sedikit rezeki ku untuk orang tak mampu dan aku harus mengalahkan rasa marahku. Aku harus bisa.

Ingatanku melayang ke masa kecilku di saat aku berumur 6 tahun. Kami ber 7, aku dan ke 6 kakakku tidur di satu ranjang besar yang sudah reyot. Rumah kami pun terbuat dari jalinan bambu atau "Gedek" orang Jawa biasa bilang. Rumah tempat aku dibesarkan oleh ayah bunda ku. Hidup rukun dengan ke 6 saudaraku, walaupun sesekali kami bertengkar. Ah itu sudah biasa!

Ayah selalu mendisplinkan kami untuk menabung. Waktu itu tidak ada celengan babi mungil seperti sekarang. Yang ada waktu itu cuma bambu. Karena rumah kami terbuat dari bambu, kamipun tidak susah-susah untuk mencari bambu lagi.
Setiap ujung atau tiang rumah selalu kami manfaatkan sebagai celengan. Setiap anak punya satu bambu. Dengan cat tembok hitam yang diberi ayah, kami menuliskan nama kami masing-masing ke bambu yang telah diberi lubang kecil, pas banget untuk pecahan uang logam seratusan rupiah.

Setiap sore kami berkumpul dan belajar bersama. Hingga datang waktu magrib, kami sekeluarga pergi ke masjid dekat rumah. Setelah itu aku dan kakak-kakakku pergi mengaji, walaupun waktu itu belom ada listrik, tapi kami semangat untuk belajar dan mengaji. Waktu itu kami mengaji dan belajar dengan diterangi lampu minyak tanah atau "sentir".

Sepulang mengaji aku dan kakak-kakakku berebutan untuk mengetuk-etuk bambu di rumah. Ah seberapa penuh lubang bambu kami terisi dengan uang logam pemberian ayahku.

Sampai suatu saat ayah memutuskan untuk membeli rumah baru. Di saat rumah bambu kami dirubuhkan, aku dan kakak-kakakku berebut untuk menunggui ayah membelah bambu bambu kami. Terpancar kebahagian dari wajah ayah, bunda, aku dan kakak-kakakku saat itu.


Blog EntryDolananFeb 11, '08 3:54 PM
for everyone

"Siji..loro..telu..papat...(satu,dua,tiga,empat)....uwis duruuunggg (udah belum)???" seru Nanik kecil.

Nanik memang tubuhnya paling kecil dibanding teman-teman sebayanya. Makanya dia sering dijadikan bulan-bulanan sama teman-teman sebayanya. Aku sendiri, suka kasihan liat Nanik kecil yang cuma pasrah dipermainkan sama teman-teman kami.

Nanik masih menghadap ke tiang listrik sambil menutup matanya dengan kedua telapak tangannya yang mungil sambil mulutnya menghitung angka dalam bahasa Jawa.
Aku dan teman-teman langsung pada lari menjauh dari Nanik dan mencari tempat persembunyian yang aman biar Nanik tidak menemukan kita.

"Eh ndah, ngumpet kesitu yuk?"ajak Dahono sepupuku.

"Ah wegah aku (ah gak mau aku), aku takut Dah" bisiknya sambil berlari di sampingku.

Dahono yang tubuhnya lebih besar dari pada aku berkata "Lah, Indah gak usah takut, wong semuanya disitu pada tidur kok?"

Aku tidak menanggapi ucapan Dahono, dia memang anak yang sok pemberani. Aku cuma membayangkan banyak orang yang terbaring di situ seperti yang dibilang Dahono, tapi membayangkan bentuk mereka aku jadi ketakutan. Aku tetap pada pendirianku untuk tidak mengikuti kemana Dahono berjalan, aku lebih suka ngumpet di belakang rumah Lek Suro tetanggaku. Sementara Dahono dengan gesit lari menuju pekuburan di belakang rumah Lek Suro. Aku cuma melirik ke arah Dahono yang sudah mulai masuk ke area pekuburan.Aku melihat bayangan Dahono di bawah sinar rembulan. Tembok yang mengitari area pekuburan memang tidak terlalu tinggi. Dahono tampak mengendap-endap di antara nisan pekuburan sambil terbungkuk-bungkuk.

Aku sempet mendengar ada jeritan temenku disertai dengan tawanya.
"Jepuuung..."teriak salah satu temenku dari kejauhan, dia rupanya sudah sampai tiang jaga di saat Nanik yang sedang jaga tidak ada karena Nanik sibuk mencari-cari kita. Kalo Nanik menemulkan salah satu di antara kita, maka yang ditemukan Nanik pertama adalah bertugas untuk jaga tiang selanjutnya. dadaku berdetak kencang saat aku dengar langkah Nanik mendekati persembunyianku.

"Aduh aku gak mau nanti jaga selanjutnya" bisikku dalam hati.

Aku berpegang erat pada batang pohon Jambu Air yang ada di depanku. Untung Lek Suro ga menyalakan lampu di belakang rumahnya.

"Semoga aja Nanik gak melihat bayangku"kataku membatin.

Nanik tampak celingukan mencari aku dan Dahono, sementara aku dengar anak-anak tertawa di Pos jaga dekat tiang di mana Nanik harus berjaga. Ah mereka dah pada ngumpul di sana.

Suasana belakang rumah Lek Suro memang mencekam, gelap, banyak pohon-pohon, trus dekat kuburan.
Tiba-tiba

"Maaaaakkkk...tuluuuuuuunnng!!!"

Aku mendengar suara Dahono dari dalam pekuburan. Ada yang terjadi pada anak itu ya? Apa dia melihat hantu?. Ah, aku tambah ngeri aja bayanginnya. Si Nanik malah lari menjauh mendengar teriak Dahono minta tolong. Dia lari sambil menjerit-jerit ketakutan.

Aku hanya mendengar Dahono menangis dan berteriak-teriak. Bapak-bapak yang sedang ngumpul di pos ronda bergegas ke areal pemakaman dan menolong Dahono
Ah si Dahono rupanya terperosok ke salah satu makam yang masih baru.
Badannya pucat pasi ketakutan. Badannya lemas sekali.
Dahono sepupuku tak lagi menjadi anak yang sok pemberani lagi. Dan dia jarang sekali mau diajak main petak umpet atau Jepungan (bahasa Jawanya).

Ah, kini aku hanya bisa menatap tiang listrik depan pos ronda sebelah rumahku. Tak ada lagi tawa anak-anak yang bermain petak umpet atau Jamuran di kala bulan Purnama.
Anak-anak sekarang sibuk bermain Playstation atau Barbie.
Tak pernah lagi kulihat anak-anak kecil yang bermain gobak sodor, layangan dekat rumahku, lompat tali, Betengan, Ular naga, dan lain sebagainya. Dimana dolanan anak yang pernah membuat aku bahagia di masa kecilku?


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help