"Siji..loro..telu..papat...(satu,dua,tiga,empat)....uwis duruuunggg (udah belum)???" seru Nanik kecil.
Nanik memang tubuhnya paling kecil dibanding teman-teman sebayanya. Makanya dia sering dijadikan bulan-bulanan sama teman-teman sebayanya. Aku sendiri, suka kasihan liat Nanik kecil yang cuma pasrah dipermainkan sama teman-teman kami.
Nanik masih menghadap ke tiang listrik sambil menutup matanya dengan kedua telapak tangannya yang mungil sambil mulutnya menghitung angka dalam bahasa Jawa.
Aku dan teman-teman langsung pada lari menjauh dari Nanik dan mencari tempat persembunyian yang aman biar Nanik tidak menemukan kita.
"Eh ndah, ngumpet kesitu yuk?"ajak Dahono sepupuku.
"Ah wegah aku (ah gak mau aku), aku takut Dah" bisiknya sambil berlari di sampingku.
Dahono yang tubuhnya lebih besar dari pada aku berkata "Lah, Indah gak usah takut, wong semuanya disitu pada tidur kok?"
Aku tidak menanggapi ucapan Dahono, dia memang anak yang sok pemberani. Aku cuma membayangkan banyak orang yang terbaring di situ seperti yang dibilang Dahono, tapi membayangkan bentuk mereka aku jadi ketakutan. Aku tetap pada pendirianku untuk tidak mengikuti kemana Dahono berjalan, aku lebih suka ngumpet di belakang rumah Lek Suro tetanggaku. Sementara Dahono dengan gesit lari menuju pekuburan di belakang rumah Lek Suro. Aku cuma melirik ke arah Dahono yang sudah mulai masuk ke area pekuburan.Aku melihat bayangan Dahono di bawah sinar rembulan. Tembok yang mengitari area pekuburan memang tidak terlalu tinggi. Dahono tampak mengendap-endap di antara nisan pekuburan sambil terbungkuk-bungkuk.
Aku sempet mendengar ada jeritan temenku disertai dengan tawanya.
"Jepuuung..."teriak salah satu temenku dari kejauhan, dia rupanya sudah sampai tiang jaga di saat Nanik yang sedang jaga tidak ada karena Nanik sibuk mencari-cari kita. Kalo Nanik menemulkan salah satu di antara kita, maka yang ditemukan Nanik pertama adalah bertugas untuk jaga tiang selanjutnya. dadaku berdetak kencang saat aku dengar langkah Nanik mendekati persembunyianku.
"Aduh aku gak mau nanti jaga selanjutnya" bisikku dalam hati.
Aku berpegang erat pada batang pohon Jambu Air yang ada di depanku. Untung Lek Suro ga menyalakan lampu di belakang rumahnya.
"Semoga aja Nanik gak melihat bayangku"kataku membatin.
Nanik tampak celingukan mencari aku dan Dahono, sementara aku dengar anak-anak tertawa di Pos jaga dekat tiang di mana Nanik harus berjaga. Ah mereka dah pada ngumpul di sana.
Suasana belakang rumah Lek Suro memang mencekam, gelap, banyak pohon-pohon, trus dekat kuburan.
Tiba-tiba
"Maaaaakkkk...tuluuuuuuunnng!!!"
Aku mendengar suara Dahono dari dalam pekuburan. Ada yang terjadi pada anak itu ya? Apa dia melihat hantu?. Ah, aku tambah ngeri aja bayanginnya. Si Nanik malah lari menjauh mendengar teriak Dahono minta tolong. Dia lari sambil menjerit-jerit ketakutan.
Aku hanya mendengar Dahono menangis dan berteriak-teriak. Bapak-bapak yang sedang ngumpul di pos ronda bergegas ke areal pemakaman dan menolong Dahono
Ah si Dahono rupanya terperosok ke salah satu makam yang masih baru.
Badannya pucat pasi ketakutan. Badannya lemas sekali.
Dahono sepupuku tak lagi menjadi anak yang sok pemberani lagi. Dan dia jarang sekali mau diajak main petak umpet atau Jepungan (bahasa Jawanya).
Ah, kini aku hanya bisa menatap tiang listrik depan pos ronda sebelah rumahku. Tak ada lagi tawa anak-anak yang bermain petak umpet atau Jamuran di kala bulan Purnama.
Anak-anak sekarang sibuk bermain Playstation atau Barbie.
Tak pernah lagi kulihat anak-anak kecil yang bermain gobak sodor, layangan dekat rumahku, lompat tali, Betengan, Ular naga, dan lain sebagainya. Dimana dolanan anak yang pernah membuat aku bahagia di masa kecilku?